Sebuah bait
rindu diantara insan adalah anugerah dari sebuah kenikmatan dunia yang
terbatas. Rindu merupakan awal dari sebuah pion-pion kecil dari sepasang
kisah cinta raja dan ratu percaturan.
Rindu paling awal dan paling
terdepan dalam peta percaturan, mengorbankan penuh pion-pion rindu.
Kadang hilang kandas, kadang memakan pion lawan untuk menahan rindu.
Rindu bahan bakar dari sebuah keniscayaan cinta yang bias di jagat raya
tapi kekal dalam alam akhir. Sebuah resolusi rindu yang bergejolak
memunculkan bait kegelisahan, candu dan romansa luka.
Di atas hamparan
bumi yang dipenuhi insan, bertaburan embun yang mewarnai seluruh isi
seantaro jagat raya oleh pejuang-pejuang simponi cinta untuk selalu
menebarkan kebaikan melalu kebahagian sebuah cinta.
Kesejukan udara dari
tiupan rindu yang memberikan sensasi hangat dan dingin dari sebuah
ketidakpastian memberikan rasa mencari dalam sebuah tumpukan jerami.
Konstelasi rindu menumpuk berirama, terhentak oleh gelombang dinamis
pasang surut rasa dan asa. Gelombang pasang laut dan benturan lempeng
bumi merupakan benturan rindu dari sebuah rasa yang sudah lama di pendam
hingga pada puncak nya memberikan getaran gelombang dan benturan.
Anugerah terindah dari sebuah pujangga adalah dicintai dan mencintai,
bukan masalah kuantitas dari entitas tapi sebuah kualitas dari proses.
Kominusi dari rindu akan berkumpul pada satu titik waktu yang berjalan
beiringan dengan sebuah pesan dari rasa dan asa.
Waktu memang berjalan
berbanding terbalik dengan relativitas romansa ketir, ia memakan terus
ukiran sejarah tanpa pandang bulu tak memperdulikan seberapa lambat
insan mengukir rasa dan asa. Pujangga yang cerdik, yang punya resonansi
gelombang cinta dependen tinggi mampu menggaungkan api semangat dalam
membangun kebaikan cinta.
26 januari di Tangerang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar