Rabu, 28 Februari 2018

[Simponi Cinta]

Sebuah bait rindu diantara insan adalah anugerah dari sebuah kenikmatan dunia yang terbatas. Rindu merupakan awal dari sebuah pion-pion kecil dari sepasang kisah cinta raja dan ratu percaturan. 

Rindu paling awal dan paling terdepan dalam peta percaturan, mengorbankan penuh pion-pion rindu. Kadang hilang kandas, kadang memakan pion lawan untuk menahan rindu. 

 Rindu bahan bakar dari sebuah keniscayaan cinta yang bias di jagat raya tapi kekal dalam alam akhir. Sebuah resolusi rindu yang bergejolak memunculkan bait kegelisahan, candu dan romansa luka. 

Di atas hamparan bumi yang dipenuhi insan, bertaburan embun yang mewarnai seluruh isi seantaro jagat raya oleh pejuang-pejuang simponi cinta untuk selalu menebarkan kebaikan melalu kebahagian sebuah cinta. 

Kesejukan udara dari tiupan rindu yang memberikan sensasi hangat dan dingin dari sebuah ketidakpastian memberikan rasa mencari dalam sebuah tumpukan jerami. 

 Konstelasi rindu menumpuk berirama, terhentak oleh gelombang dinamis pasang surut rasa dan asa. Gelombang pasang laut dan benturan lempeng bumi merupakan benturan rindu dari sebuah rasa yang sudah lama di pendam hingga pada puncak nya memberikan getaran gelombang dan benturan. 

Anugerah terindah dari sebuah pujangga adalah dicintai dan mencintai, bukan masalah kuantitas dari entitas tapi sebuah kualitas dari proses. Kominusi dari rindu akan berkumpul pada satu titik waktu yang berjalan beiringan dengan sebuah pesan dari rasa dan asa. 

Waktu memang berjalan berbanding terbalik dengan relativitas romansa ketir, ia memakan terus ukiran sejarah tanpa pandang bulu tak memperdulikan seberapa lambat insan mengukir rasa dan asa. Pujangga yang cerdik, yang punya resonansi gelombang cinta dependen tinggi mampu menggaungkan api semangat dalam membangun kebaikan cinta.

26 januari di Tangerang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar